Museum Rempah Ternate
Museum Rempah Kota Ternate adalah pusat dokumentasi dan edukasi sejarah yang terletak di dalam kompleks Benteng Oranje, Jalan Pahlawan Revolusi, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah. Berbeda dengan Museum Kedaton yang berfokus pada silsilah dan benda pusaka kesultanan, museum ini didirikan khusus untuk merangkum narasi besar komoditas cengkih dan pala yang pernah mengubah peta geopolitik dunia.
1. Berdiri di Atas "Jantung" Kolonialisme VOC
Kisah museum ini tidak bisa dilepaskan dari lokasinya. Museum Rempah menempati bekas bangunan barak dan kantor Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) peninggalan abad ke-17 di dalam Benteng Oranje. Bangunan batu tua dengan arsitektur kolonial yang tebal ini awalnya didirikan oleh Belanda untuk mengamankan jalur monopoli emas hijau (cengkih) dari perlawanan rakyat Ternate. Memasuki museum ini berarti berjalan langsung di atas situs asli tempat para gubernur jenderal Belanda zaman dulu mengatur siasat dagang mereka.
2. Gagasan Pendirian dan Revitalisasi
Pembangunan museum diprakarsai oleh Pemerintah Kota Ternate dan diresmikan pertama kali pada tahun 2015. Tujuannya adalah memperkuat identitas kota dengan konsep "City Branding: Ternate Kota Rempah". Pada tahun 2019, museum ini mendapatkan program revitalisasi besar-besaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mematangkan tata pameran dan membaginya menjadi dua fokus: Museum Rempah dan Museum Sejarah Ternate.
3. Merangkum Ambisi Bangsa-Bangsa Eropa
Di dalam ruang-ruang pamerannya, museum ini mengisahkan garis waktu kedatangan para pelaut dunia. Pengunjung disuguhkan infografis, peta pelayaran kuno, dan catatan arsip tentang bagaimana bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, hingga Belanda rela berlayar mengitari bumi demi mencapai pulau kecil bernama Ternate. Ruangan ini menceritakan bahwa rasa cengkih dan pala dari Maluku Utara.
Koleksi Unik yang Dipamerkan
Meskipun berukuran ringkas, museum ini menyimpan artefak yang sangat edukatif: Sampel Rempah Historis: Berbagai jenis cengkih dan pala yang diawetkan, lengkap dengan penjelasan botani dan sejarah penggunaannya di dunia medis serta kuliner Eropa kuno.
Miniatur Perahu Kora-Kora: Model perahu perang tradisional Maluku yang dahulu digunakan Sultan Ternate untuk berpatroli menjaga pohon rempah sekaligus melawan kapal-kapal besar milik penjajah.
Artefak Maritim dan Keramik: Koin-koin kuno, botol-botol kaca obat dari Belanda, serta pecahan keramik asing milik para pecinta budaya lokal yang disumbangkan ke museum.Kini, bangunan barak militer VOC yang dulunya menjadi simbol penindasan dan monopoli telah berbalik fungsi. Kompleks museum ini bertransformasi menjadi ruang publik yang edukatif sekaligus pusat kreativitas bagi komunitas sejarah anak muda di Maluku Utara.
← Kembali ke Beranda