Benteng Kalamata
Kisah nyata mengenai pangeran di balik nama benteng tersebut adalah tentang Kaicil Kalamata (Pangeran Kalamata). Beliau bukan pangeran biasa yang berdiam diri di istana, melainkan seorang panglima perang pemberani dan simbol perlawanan anti-VOC (Belanda) yang legendaris di abad ke-17. Asal-Usul sang Pangeran Kaicil Kalamata adalah putra dari Sultan Ternate, Mudaffar Syah I. Beliau merupakan saudara tiri dari Sultan Ternate yang berkuasa di pertengahan abad ke-17, yaitu Sultan Mandarsyah. Gelar "Kaicil" di depan namanya merupakan gelar kebangsawanan tertinggi untuk pangeran atau anak laki-laki Sultan di wilayah Maluku Utara.
Pemicu Konflik: Monopoli Kejam VOC Pada masa itu, Sultan Mandarsyah (kakak tiri Kalamata) memilih untuk bersikap tunduk dan bekerja sama dengan kompeni Belanda (VOC). VOC memaksakan sistem Ekstirpasi, yaitu kebijakan kejam menebang pohon-pohon cengkih milik rakyat Maluku secara sepihak demi menjaga harga rempah-rempah di Eropa tetap tinggi. Pangeran Kalamata sangat menentang kebijakan kakaknya yang berkompromi dengan penjajah. Beliau tidak tega melihat rakyat Ternate dan Ambon menderita serta jatuh miskin akibat monopoli brutal Belanda.
Memimpin Pemberontakan Besar Maluku (1650–1655) Karena muak dengan VOC, Pangeran Kalamata bersama tokoh pejuang lain seperti Pangeran Majira (Raja Muda Ambon) dan Pangeran Saidi (Kapita Laut Ternate) mengobarkan pemberontakan massal pada tahun 1650. Merebut Takhta: Pasukan pemberontak sempat berhasil menurunkan Sultan Mandarsyah yang pro-Belanda dari takhta Ternate dan menggantinya dengan Sultan Manila.
Intervensi Belanda: VOC tidak tinggal diam. Mereka mengirimkan armada militer besar-besaran untuk menggempur pasukan pemberontak. Akibat keunggulan senjata api Belanda, setelah 5 tahun bertempur habis-habisan, pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan pada tahun 1655. Pangeran Saidi dihukum mati dengan kejam, sementara Kalamata berhasil lolos dari kepungan.
Aliansi dengan Sultan Hasanuddin di Makassar etelah pelariannya dari Maluku, Pangeran Kalamata berlayar ke selatan dan mencari perlindungan ke Kesultanan Gowa di Sulawesi. Di sana, beliau disambut hangat oleh Sultan Hasanuddin ("Ayam Jantan dari Timur").
Karena kecerdasan dan keberaniannya dalam taktik perang, Pangeran Kalamata diangkat menjadi salah satu orang kepercayaan dan panglima militer utama Sultan Hasanuddin. Beliau memimpin ekspedisi armada Makassar untuk menyerang wilayah-wilayah kekuasaan Belanda di Kepulauan Sula dan Banggai guna melemahkan cengkeraman VOC.
Akhir Hayat sang Pejuang Pangeran Kalamata menghabiskan sisa hidupnya di pengasingan sebagai pejuang yang tidak pernah tunduk kepada Belanda. Beliau akhirnya wafat di Makassar pada tanggal 23 Februari 1676. Untuk menghormati kegigihan dan keberanian sang pangeran dalam melawan VOC, ketika Belanda membangun kembali benteng tua Santa Lucia di wilayah Kayu Merah, benteng tersebut secara resmi dinamai Benteng Kalamata. Nama itu abadi hingga hari ini sebagai pengingat akan pangeran Ternate yang rela kehilangan hak takhtanya demi membela hak rakyatnya.
Dikosongkan Sejak Tahun 1843
Sebelum memasuki abad ke-20, fungsi militer Benteng Kalamata sudah berakhir sepenuhnya. Pada tahun 1843, Residen Belanda di Ternate, Van Helback, secara resmi memerintahkan pengosongan benteng ini. Alasan utamanya adalah karena teknologi perang sudah maju dan posisi strategis benteng di pinggir pantai tidak lagi krusial untuk pertahanan artileri modern Belanda di Ternate.
2. Menjadi Kawasan Kumuh dan Bersemak (Awal Abad ke-20)
Ketika memasuki era tahun 1900-an (awal abad ke-20), benteng ini dibiarkan begitu saja tanpa perawatan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kondisi Fisik: Tembok-tembok batu karangnya yang setebal 60 cm mulai ditumbuhi lumut, akar pohon besar, dan semak belukar. Kawasan Sekitar: Berdasarkan arsip kolonial, area di dalam benteng berubah menjadi tanah kosong yang kumuh. Struktur bangunan kayu di bagian dalamnya sudah lapuk dan runtuh dimakan usia. Sumur Tua: Satu-satunya sumber air tawar di dalam benteng (sebuah sumur tua) menjadi kotor, tertutup semak, dan airnya tidak dapat digunakan lagi oleh masyarakat sekitar Kayu Merah.
3. Kehilangan Nama Aslinya
IPada masa awal abad ke-20 ini, masyarakat lokal dan pihak Belanda sudah tidak lagi menyebut tempat ini dengan nama aslinya, yaitu Fort Santa Lucia (nama yang diberikan Portugis saat dibangun tahun 1540). Tempat ini sepenuhnya dikenal sebagai Benteng Kalamata (diambil dari nama Pangeran Kalamata, adik Sultan Ternate Mandar Syah) atau disebut juga Benteng Kayu Merah oleh warga sekitar.
Akhir Penyelamatan (Abad ke-20 Akhir)
Kondisi merana dan terbengkalai sejak awal abad ke-20 ini berlangsung sangat lama, melewati masa pendudukan Jepang hingga masa kemerdekaan Indonesia. Benteng ini baru mendapatkan "kehidupan kedua" ketika Pemerintah Republik Indonesia melakukan pemugaran total pada tahun 1994. Arsitekturnya yang menyerupai bentuk penyu atau empat penjuru mata angin dikembalikan seperti sisa struktur aslinya hingga menjadi objek wisata indah seperti sekarang.
← Kembali ke Beranda