Masjid Sultan Ternate
Awal Abad ke-17, Sekitar Tahun 1606 M (Paling Banyak Dirujuk).
1. Tahun Pembangunan: Sekitar tahun 1606 M.
Tokoh Pendiri: Pembangunan fisik masjid dalam versi ini dirintis pada masa Sultan Saidi Barakati (1575–1606).Penyelesaian: Pembangunannya dilanjutkan oleh Sultan Mudafar dan baru benar-benar diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Hamzah (yang bertakhta tahun 1628–1648). Pendapat ini didukung oleh berbagai riset arkeologi karena struktur bangunan batu dan tata ruangnya mirip dengan masjid abad ke-12 di Nusantara.
2. Fakta Arsitektur Bangunan Batu Asli
Struktur fisik Masjid Sultan Ternate memiliki keunikan teknologi arsitektur Nusantara abad ke-17 yang terbukti tahan gempa selama ratusan tahun: Dinding dan Perekat Alami: Struktur dinding asli masjid dibangun menggunakan susunan batu kali dan batu karang. Karena saat itu belum ada semen modern, para pembangun menggunakan bahan perekat organik yang sangat kokoh, yaitu campuran getah/kulit kayu pohon kalumpang. Perekat alami ini memberikan sifat elastis pada bangunan sehingga tidak mudah runtuh saat diguncang gempa tektonik dari Gunung Gamalama.
Denah dan Atap Tumpang: Bangunan utama berbentuk segi empat. Bagian atapnya mengadopsi model tumpang limas (piramida bersusun) khas Nusantara asli, bukan berbentuk kubah Timur Tengah. Literatur mencatat atap ini memiliki undakan yang dipenuhi dengan 360 buah terali berukir, yang secara filosofis melambangkan jumlah hari dalam satu tahun penuh. Penyangga Utama: Ruang utama ibadah ditopang oleh struktur kayu tradisional kokoh, terdiri dari 4 tiang utama (Saka Guru) dan dibantu oleh 12 tiang penyokong di sekelilingnya.
3. Silsilah Sultan yang Memimpin Penyelesaian Masjid
Berdasarkan dokumen sejarah Kementerian Agama RI dan riset arkeologi Islam Maluku Utara, tokoh kunci yang memimpin hingga selesainya pembangunan fisik masjid batu ini secara pasti adalah Sultan Hamzah (Sultan Ternate ke-24).
Berikut adalah silsilah garis keturunan langsung (dari ayah ke anak) yang menghubungkan proses awal hingga penyelesaian masjid: Sultan Baabullah (Sultan ke-21, penguasa legendaris Ternate yang berhasil mengusir Portugis).
Sultan Said Barakati (Sultan ke-22, memerintah 1575–1606). Beliau adalah sultan yang pertama kali merintis ide dasar dan fondasi awal pembangunan Sigi Lamo di lokasi dekat kedaton sekitar tahun 1606 sebelum ditawan oleh Spanyol.
Sultan Mudafar Syah I (Sultan ke-23, memerintah 1606–1627). Ia melanjutkan kekuasaan ayahnya di tengah konflik politik dengan bangsa Eropa. Sultan Hamzah (Sultan ke-24, memerintah 1628–1648). Beliau adalah Sultan yang secara pasti menyelesaikan seluruh pembangunan fisik bangunan batu Masjid Sultan Ternate ini hingga berdiri sempurna sebagai pusat religi dan hukum adat kesultanan.
Saka Guru (tiang utama) pada Masjid Sultan Ternate (Sigi Lamo) memiliki kedudukan yang sangat sakral, baik secara arsitektur fisik maupun dalam filosofi hukum adat Kesultanan Ternate.
Bagi Kesultanan Ternate, Masjid Sigi Lamo bukan sekadar tempat ibadah ritual, melainkan juga pusat peradilan adat dan pengesahan keputusan politik tertinggi sultan. Empat tiang utama ini melambangkan Bobato Pehak Aherat (Lembaga Keagamaan Kesultanan) yang bertugas menjaga moral, syariat, dan hukum di bumi Ternate.
Setiap tiang secara simbolis mewakili empat jabatan struktur adat keagamaan tertinggi yang duduk di bawahnya saat sidang adat berlangsung: Tiang Kalem (Kadi): Pemimpin tertinggi otoritas hukum syariat Islam di kesultanan.Tiang Imam: Pemimpin ibadah salat sekaligus penjaga kesucian masjid.Tiang Khatib: Penyampai khotbah, penasihat, dan penyambung lidah keagamaan sultan kepada rakyat.Tiang Modim (Bilal/Muazin): Tanda waktu salat dan penjaga ketertiban azan di masjid.
← Kembali ke Beranda