Foto Benteng Oranje Ternate

Benteng Oranje

Kisah nyata dan pasti mengenai benteng peninggalan VOC tahun 1607 yang menjadi pusat perdagangan cengkih dunia merujuk pada Benteng Oranje di Kota Ternate, Maluku Utara. Benteng ini merupakan markas besar (pusat pemerintahan) pertama VOC di Asia sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia (Jakarta) oleh Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1619.

1. Asal-Usul: Dari Benteng Melayu Menjadi Benteng VOC

Sebelum kedatangan Belanda, lokasi tempat benteng ini berdiri awalnya adalah sebuah benteng tua peninggalan Portugis. Wilayah di sekitar benteng tersebut dihuni oleh para pedagang dari Melayu, sehingga masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Benteng Malayo atau Benteng Melayu.Pada tahun 1606, armada militer Spanyol berhasil menyerang, menguasai Ternate, dan merusak benteng pertahanan tersebut.

2. Perjanjian Aliansi dan Pendirian Benteng (26 Mei 1607)

Pada tahun 1607, Laksamana VOC bernama Cornelis Matelieff de Jonge tiba di Ternate. Melihat posisi Ternate yang terjepit oleh kekuatan Spanyol, Sultan Ternate (Sultan Mudaffar Syah) menjalin kerja sama taktis dengan Belanda.Aksi Penyelamatan: Belanda membantu Sultan Ternate memukul mundur pasukan Spanyol dari wilayah tersebut.Hadiah Sultan: Sebagai bentuk terima kasih dan demi memulihkan pertahanan wilayahnya, Sultan memberikan izin resmi kepada VOC untuk membangun kembali bekas Benteng Malayo yang sudah hancur.Peletakan Batu Pertama: Pembangunan benteng dimulai pada 26 Mei 1607 di bawah komando Cornelis Matelieff de Jonge.

3. Pemberian Nama "Oranje" (1609)

Bangunan ini awalnya tetap disebut Benteng Malayo semasa dikerjakan. Baru pada tahun 1609, perwira VOC bernama Francois Wittert meresmikan nama baru kompleks ini menjadi Benteng Oranje (Fort Oranje). Nama ini diambil sebagai bentuk penghormatan kepada Dinasti Oranje-Nassau, keluarga kerajaan yang memimpin mendiang Republik Belanda kala itu.

Menjadi Jantung Monopoli Cengkih Dunia

Mengapa benteng ini begitu penting? Berbarengan dengan izin pembangunan benteng pada tahun 1607, Sultan Ternate juga menandatangani kontrak dagang krusial yang memberikan hak monopoli penuh pembelian cengkih kepada VOC.Di dalam benteng kokoh berbahan batu karang, batu kali, dan bata inilah VOC mendirikan gudang penyimpanan raksasa (loji).Seluruh hasil panen cengkih rakyat Ternate dan wilayah sekitarnya wajib disetor ke benteng ini dengan harga murah yang telah ditentukan sepihak oleh VOC.Gubernur Jenderal pertama Hindia Belanda, Pieter Both, serta para petinggi dewan Hindia (Raad van Indië) menjalankan roda administrasi dagang dan militernya langsung dari kantor di dalam Benteng Oranje ini.Melalui Benteng Oranje, VOC berhasil mengontrol pasokan cengkih global, menguras kekayaan Maluku Utara, dan mendikte stabilitas politik Nusantara sebelum memindahkan pusat gravitasinya ke pulau Jawa.

← Kembali ke Beranda
© 2026 Dinas Kebudayaan Kota Ternate