Benteng Kota Naka
Benteng Kota Naka atau nama resminya Benteng Sentosa (Fort de Bescherming atau Fort Sentosa) adalah sebuah situs militer yang sangat unik dan penuh siasat kelicikan kolonial.
1. Latar Belakang Pembangunan (Abad ke-18)
Benteng ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 Masehi. Berbeda dengan Benteng Oranje yang masif dan terletak di tepi pantai untuk menghalau armada laut musuh, Benteng Sentosa sengaja dibangun di area perbukitan Kelurahan Soa Sio, Ternate Utara. Ukurannya kecil, hanya berbentuk segi empat murni berukuran 20 x 20 meter.
2. Siasat Licik: Menjadi "Mata-Mata" Sultan
Letak benteng ini berada tepat di bagian belakang kompleks Kadaton (Istana) Sultan Ternate. Posisi topografinya dibuat lebih tinggi daripada halaman istana. Tujuan utama Belanda membangun benteng ini bukanlah untuk melindungi kota, melainkan untuk memata-matai lingkaran dalam Kesultanan Ternate. Dari atas dinding benteng ini, serdadu Belanda bisa mengawasi dengan jelas: Siapa saja tamu asing (seperti pedagang Inggris atau Spanyol) yang diam-diam bertamu ke istana.Gerak-gerik politik para Pangeran (Kaicil) dan Sultan Ternate dalam menggalang kekuatan rakyat.
3. Moncong Senjata Mengarah ke Istana
Sebagai bukti otentik fungsi spionase tersebut, pada reruntuhan benteng sisi utara hingga kini masih ditemukan tiga buah lubang bidik senjata atau tempat dudukan meriam (embrasures). Lubang-lubang persenjataan ini sengaja dikunci untuk membidik langsung ke arah kompleks keraton sultan, berfungsi sebagai ancaman militer psikologis jarak dekat (kurang lebih 100 meter) agar pihak kesultanan tidak berani melakukan pemberontakan.
Asal-Usul Nama "Kota Naka
Nama Kota Naka adalah nama lokal yang diberikan oleh masyarakat Ternate. "Kota" dalam bahasa setempat berarti benteng batu, sedangkan "Naka" berarti buah nangka. Masyarakat mengaitkan nama ini dengan dua hal: dahulu di sekitar bukit benteng banyak ditumbuhi pohon nangka, dan aroma nangka yang menyengat dari kejauhan diibaratkan seperti fungsi benteng Belanda ini yang selalu "mencium" atau mengendus segala kabar rahasia dari dalam istana sultan.
Fungsi Pertahanan Lapis Kedua Selain sebagai pos intai, dokumen militer Belanda mencatat Fort Sentosa sebagai titik pertahanan lapis kedua. Jika pangkalan utama Belanda di pesisir pantai runtuh akibat serangan, pasukan garnisun Belanda akan mundur ke atas bukit dan bertahan di benteng kecil ini sambil mengontrol suplai air dan memantau pergerakan keraton dari atas. Saat ini, situs ini telah dilindungi penuh sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional.
Para Sultan Ternate yang memerintah sepanjang abad ke-18 (tahun 1700 hingga 1799 Masehi) berada di bawah tekanan politik kompeni Belanda (VOC). Pada era inilah Belanda mendirikan Benteng Sentosa (Kota Naka) tepat di bukit belakang istana untuk memastikan ruang gerak, aliansi, dan keputusan politik mereka selalu termonitor. Berikut adalah daftar kronologis sultan-sultan tersebut berdasarkan arsip silsilah resmi Kesultanan Ternate:
1. Sultan Said Fatahullah (1689 – 1714 M) Peran Sejarah: Mengawali abad ke-18, ia memimpin Ternate dalam fase transisi setelah era perang besar abad ke-17. Di masa pemerintahannya, cengkeraman ekonomi VOC semakin mencekik melalui perjanjian-perjanjian dagang monopoli. 2. Sultan Amir Iskandar Zulkarnain Syaifuddin (1714 – 1751 M) Peran Sejarah: Menjadi salah satu sultan yang memiliki masa takhta paling panjang di abad ke-18. Pada masa pemerintahannyalah, tata kota Ternate Utara mulai disisipi pos-pos pertahanan militer Belanda yang lebih intim ke arah kadaton untuk meredam potensi pemberontakan internal keluarga istana. 3. Sultan Ayan Syah (1751 – 1754 M) Peran Sejarah: Masa pemerintahannya relatif sangat singkat (hanya sekitar 3 tahun) akibat intrik politik dan tekanan tiada henti dari perwakilan gubernur VOC di Maluku. 4. Sultan Syah Mardan (1755 – 1763 M) Peran Sejarah: Memerintah di pertengahan abad ke-18. Hubungan istana dan benteng pertahanan Belanda (Fort Oranje) di pesisir sangat tegang, memaksa militer kolonial memperketat pengawasan intelijen di sekitar wilayah pemukiman kadaton. 5. Sultan Jalaluddin (1763 – 1774 M) Peran Sejarah: Mengalami langsung pengetatan patroli militer darat kompeni. Setiap tamu asing yang hendak berdiplomasi dengannya di kadaton harus melalui penyaringan ketat Belanda. 6. Sultan Harunsyah (1774 – 1781 M) Peran Sejarah: Bertakhta di masa-masa gejolak regional Maluku mulai memanas kembali akibat pengaruh persaingan antara kekuatan dagang Belanda dan armada Inggris. 7. Sultan Achral / Ahral (1781 – 1796 M) Peran Sejarah: Berkuasa saat posisi geografis benteng mata-mata (seperti Kota Naka) menjadi sangat krusial bagi Belanda. VOC sangat cemas Sultan Achral akan membangun aliansi rahasia dengan pangeran-pangeran dari Kesultanan Tidore tetangga, terutama saat gerakan perlawanan Sultan Nuku dari Tidore mulai membara di akhir abad ke-18. 8. Sultan Muhammad Yasin / Sarkan (1796 – 1801 M) Peran Sejarah: Menutup pengujung abad ke-18. Masa transisi pemerintahannya bertepatan dengan detik-detik runtuhnya kongsi dagang VOC (bangkrut pada tahun 1799) dan pengambilalihan kekuasaan secara langsung oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sultan-sultan abad ke-18 ini secara formal masih diakui sebagai pemimpin berdaulat di istana. Namun, secara de facto, hak-hak politik mereka diamputasi. Kehadiran para Sultan abad ke-18 ini menjadi alasan mutlak mengapa Belanda membangun infrastruktur spionase masif berbentuk benteng Kota Naka (Fort Sentosa), agar moncong meriam mereka bisa siaga mengarah ke istana kapan saja jika sultan berniat membela rakyatnya. ← Kembali ke Beranda