Foto Benteng Tolukko Ternate

Benteng Kastela

Kisah Benteng Kastela adalah salah satu narasi paling dramatis, valid, dan tercatat kuat dalam sejarah kolonial Nusantara. Baik dari dokumen Portugis, arsip Spanyol, catatan Kesultanan Ternate, maupun buku Oud en Nieuw Oost-Indiën karya François Valentijn.

1. Pembangunan Berdarah Selama 20 Tahun (1522–1540)

Pada 24 Juni 1522, Gubernur Portugis António de Brito meletakkan batu pertama pembangunan benteng ini. Portugis memberinya nama resmi Fort São João Batista (Benteng Santo Yohanes Pembaptis). Karena pembangunannya memakan waktu hampir 20 tahun dan berganti-ganti arsitek militer, benteng ini menjadi permukiman besar yang oleh masyarakat lokal disebut Gam Lamo (Kampung Besar). Spanyol juga sempat menguasainya dan menyebutnya Ciudad del Rosario.

2. Ambisi Monopoli dan Ketegangan Agama

Tujuan utama Portugis membangun benteng pertahanan ini adalah untuk mengontrol dan memonopoli perdagangan cengkih di Maluku. Namun, seiring berjalannya waktu, para gubernur Portugis mulai bertindak sewenang-wenang. Mereka mencampuri urusan internal Kesultanan Ternate, merendahkan hukum adat lokal, dan memicu ketegangan karena misi kristenisasi yang agresif di tengah masyarakat Ternate yang muslim.

3. Tragedi 28 Februari 1570: Pembunuhan Licik Sultan Khairun

Ini adalah peristiwa paling krusial yang validitasnya diakui dunia. Sultan Khairun (Raja Ternate saat itu) adalah pemimpin yang cerdas dan berani melawan dominasi Portugis. Karena kewalahan menghadapi perlawanan Sultan, Gubernur Portugis ke-18, Diego Lopez de Mesquita, menggunakan taktik licik.

Muslihat Perjanjian: Lopez de Mesquita mengundang Sultan Khairun ke Benteng Kastela untuk menandatangani perjanjian damai. Sebagai tanda niat baik, Sultan datang hanya ditemani sedikit pengawal.

Pembunuhan: Begitu Sultan Khairun melangkah masuk ke dalam benteng, atas perintah Gubernur Lopez, seorang sersan Portugis bernama Antonio Pimental menikam Sultan hingga tewas. Jenazah Sultan kemudian bukan dibuang ke laut Tetapi di dalam Benteng Kastela Tempat nya pas di dalam mesjid yang berada di dalam benteng kastela.

Sumpah Baabullah dan Pengepungan 5 Tahun (1570–1575)

Kematian tragis Sultan Khairun memicu kemarahan luar biasa rakyat Maluku. Putra mahkota, Sultan Baabullah, naik takhta dan bersumpah akan mengusir Portugis dari tanah Maluku. Alih-alih menyerang benteng secara frontal yang bisa mengorbankan banyak nyawa, Sultan Baabullah menggunakan strategi Pengepungan Total. Pasukan Ternate mengepung Benteng Kastela selama hampir 5 tahun. Akses logistik makanan dan air bersih diputus sama sekali.

Kekalahan Portugis dan Kejayaan Ternate Pada tanggal 28 Desember 1575, setelah bertahan dalam kelaparan ekstrem di dalam benteng, Portugis akhirnya menyerah tanpa syarat.

Menunjukkan keluhuran budinya, Sultan Baabullah tidak membantai mereka. Orang-orang Portugis dibiarkan pergi dengan damai ke Ambon dan Tidore. Sejak saat itu, Benteng Kastela jatuh ke tangan Ternate dan dijadikan istana oleh Sultan Baabullah, menandai era keemasan Kesultanan Ternate sebagai "Penguasa 72 Pulau".

Mengapa Benteng Kastela Hancur Sekarang? Dalam catatan François Valentijn, ia menuliskan bahwa kehancuran benteng ini tidak hanya disebabkan oleh sisa-sisa perang, melainkan akibat rentetan bencana alam hebat (gempa bumi tektonik dan letusan Gunung Gamalama) yang berulang kali meruntuhkan dinding-dinding batu tebalnya selama abad ke-17 dan ke-18. Saat ini, area tersebut dilindungi sebagai cagar budaya di Kota Ternate.

← Kembali ke Beranda
© 2026 Dinas Kebudayaan Kota Ternate