Foto Kadaton Ternate

Kadaton Sultan Ternate

Sebelum Kadaton megah tahun 1813 yang Anda lihat sekarang berdiri di Kelurahan Salero, pusat pemerintahan dan istana Kesultanan Ternate sempat berpindah-pindah tempat. Perpindahan ini dipengaruhi oleh strategi pertahanan, letusan Gunung Gamalama, hingga tekanan politik dari bangsa kolonial.

1. Kampung Sampalu: Pangkalan Pertama (1257)

Ketika Baab Mashur Malamo mendirikan Kerajaan Ternate pada tahun 1257, ia mendirikan ibu kota dan istana pertamanya di wilayah Sampalu (sekarang masuk wilayah pesisir barat/barat daya Pulau Ternate).

Alasan Pemilihan : Lokasi ini dipilih karena dekat dengan pelabuhan alam yang memudahkan pemantauan kapal dagang serta patroli terhadap ancaman bajak laut dari Filipina Selatan. Bentuk Istana : Istana pada masa ini masih sangat tradisional, berbentuk rumah panggung kayu besar khas masyarakat Maluku (disebut rumah Kie atau Fola).

2. Foramadiahi: Benteng di Lereng Gunung (Abad ke-14)

Seiring meningkatnya persaingan antarkerajaan di Maluku (terutama dengan Tidore dan Jailolo), pusat pemerintahan dipindahkan ke atas bukit di Foramadiahi (wilayah dataran tinggi Ternate). Alasan Pemilihan: Faktor keamanan total. Berada di lereng Gunung Gamalama yang tinggi membuat istana ini sangat sulit diserang oleh musuh dari arah laut.

Dari ketinggian ini, para prajurit Kolano (Raja) Ternate bisa mengawasi seluruh perairan Maluku. Jejak Sejarah : Di kawasan Foramadiahi inilah Sultan Khairun (Sultan Ternate yang terkenal) dimakamkan, menandakan betapa sakralnya wilayah lereng gunung ini bagi keluarga kerajaan.

3. Istana Gamtalamu dan Era Kolonial Portugis (Abad ke-16)

Ketika Islam makin kuat dan bangsa Portugis datang pada tahun 1512, pusat keramaian bergeser kembali ke area pesisir timur, tepatnya di kawasan Gamtalamu (sekarang sekitar area pusat Kota Ternate). Konflik Istana dan Benteng: Portugis diizinkan membangun Benteng Nostra Senhora da Rosario (sekarang dikenal sebagai Benteng Kastela) tidak jauh dari kediaman Sultan.

Hubungan yang awalnya lancar berubah menjadi tragedi ketika Sultan Khairun dibunuh secara licik di dalam benteng Portugis tersebut pada tahun 1570. Pengusiran Portugis: Putranya, Sultan Baabullah, mengepung benteng tersebut selama 5 tahun dari istananya hingga Portugis menyerah dan diusir dari Ternate pada tahun 1575. Setelah itu, Sultan Baabullah menjadikan bekas benteng Portugis tersebut sebagai istana barunya.

Perpindahan ke Salero Akibat Bencana Alam (Awal Abad ke-19)

Pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, terjadi serangkaian letusan hebat dari Gunung Gamalama yang merusak pemukiman di struktur kota lama, ditambah dengan gesekan politik dengan VOC Belanda yang menguasai Benteng Oranje.

Demi keselamatan dan menata kembali kewibawaan kesultanan, Sultan Muhammad Ali memutuskan untuk memindahkan kompleks istana agak bergeser ke arah utara, yaitu di Kelurahan Salero. Di atas bukit kecil Limau Jore-jore di Salero inilah, pada tanggal 24 November 1813, dibangun gedung Kedaton permanen bergaya Eropa-Cina-Ternate yang berdiri kokoh dan menjadi museum yang kita kenal hari ini.

← Kembali ke Beranda
© 2026 Dinas Kebudayaan Kota Ternate