Foto Masjid sigi Cim

Masjid Sigi Cim

Dalam bahasa Ternate, kata Sigi berarti masjid dan Cim (atau Tjim) berarti Cina/Tionghoa. Jadi, Sigi Cim secara harfiah berarti Masjid Cina.

Satu dari Empat Masjid Utama Kesultanan

Pada masa kejayaan Kesultanan Ternate, pengurusan ibadah dan masyarakat diatur secara ketat oleh lembaga keagamaan (Bobato Akhirat). Pihak Kesultanan mendirikan empat masjid khusus (empat pilar spiritual) di area pusat kota untuk mengakomodasi kelompok masyarakat yang berbeda, yaitu: Masjid di Kota Ternate adalah masjid-masjid yang dibangun di wilayah Kota Ternate. Sebagian besar masjid di Kota Ternate dibangun di wilayah bagian utara dan sebagian kecil lainnya dibangun di bagian selatan. Masjid-masjid kuno di Kota Ternate dibangun dengan gaya arsitektur tradisional yaitu penggunaan atap bersusun lima tingkat dan berbentuk limas. Sedangkan masjid-masjid lainnya di Kota Ternate dibangun dengan menggunakan kubah sebagai atap.

Di Kota Ternate terdapat empat masjid yang dibangun secara khusus sebagai tempat ibadah bagi Sultan Ternate beserta kerabat dan pejabat tinggi yang tinggal di Keraton Kesultanan Ternate. Keempat masjid tersebut yaitu Masjid Sigi Cim, Masjid Sigi Lamo, Masjid Sigi Heku dan Masjid Langgar Koloncucu. Pada masa Kesultanan Ternate, pengurusan masjid termasuk di Kota Ternate diatur dalam Bobato Akhirat dengan kepengurusan meliputi seorang kadi, para imam, para khatib, para muazin dan para pegawai khusus pengurusan masjid.

Asal-Usul Nama dan Komunitas "Melayu Tjim"

Berdasarkan dokumen sejarah dan manuskrip keagamaan Maluku Utara, Sigi Cim dahulu juga kerap disebut sebagai Masjid Lae Tjim atau Masjid Malayu Tjim. Sejak abad ke-16 dan ke-17, Ternate sebagai pusat rempah-rempah dunia kedatangan banyak pedagang dari berbagai bangsa, termasuk daratan Tiongkok. Sebagian dari pedagang Tionghoa ini menetap, memeluk agama Islam (mualaf), membaur dengan budaya Melayu setempat, dan beranak-pinak di kawasan yang sekarang mencakup area Kelurahan Santiong dan sekitarnya (nama Santiong sendiri berakar dari kata Sentiong yang berarti pekuburan Tionghoa). Untuk memfasilitasi ibadah komunitas mualaf Tionghoa ini, pihak Kesultanan memberikan restu dan dukungan untuk mendirikan Sigi Cim.

Lokasi dan Kondisi Saat Ini

Sigi Cim terletak di Kelurahan Makassar Timur, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate. Perubahan Fisik: Berbeda dengan Sigi Lamo yang bentuk aslinya masih dipertahankan dengan atap tumpang bersusun, bangunan Sigi Cim telah mengalami pemugaran total secara drastis dari arsitektur abad lampaunya. Saat ini, bangunannya telah bertransformasi menjadi masjid permanen modern dan berganti nama resmi menjadi Masjid An-Nur Sigi Cim. Sigi Cim merupakan bukti nyata bahwa sejak ratusan tahun lalu, Kesultanan Ternate adalah wilayah yang sangat toleran, inklusif, dan menghargai keberagaman suku bangsa umat Muslim yang datang ke pulau tersebut.

Kisah tentang pemukiman peranakan Tionghoa Muslim di kawasan Santiong (dan daerah sekitarnya seperti Makassar Timur) zaman dulu merupakan salah satu lembaran paling menarik dalam tata kota sejarah Kesultanan Ternate.

Arti Nama "Santiong Secara etimologi, nama Santiong berakar dari dialek Tionghoa: San berarti kuburan atau gunung,Tiong diambil dari kata Tionghoa. Secara harfiah, Santiong berarti Perkuburan Tionghoa.

Lahan luas di kawasan ini pada zaman dahulu merupakan kebun pala milik warga keturunan Tionghoa kaya yang kemudian dihibahkan/diwakafkan. Sebagian lahan diwakafkan untuk makam komunitas Tionghoa, dan sebagian lainnya diberikan untuk pemakaman umat Islam, yang letaknya saling berdampingan.

Wilayah Hunian "Fala Jawa" (Kampung Melayu dan Peranakan)Dalam struktur tata ruang Kesultanan Ternate, wilayah hunian dibagi berdasarkan kluster etnis. Komunitas mualaf peranakan Tionghoa dan pedagang Muslim dari luar pulau (Arab dan Melayu) ditempatkan di sebuah kawasan yang disebut Fala Jawa (yang berarti Rumah Jawa/Asing).

Lokasi pemukiman peranakan Tionghoa Muslim ini membentang di sekitar wilayah Santiong hingga Makassar Timur saat ini.Di wilayah inilah mereka membaur dengan kebudayaan lokal, menikah dengan penduduk setempat, dan membentuk komunitas Muslim Tionghoa-Melayu. Jaringan Perdagangan dan Hubungan dengan KedatonKomunitas Tionghoa Muslim di Santiong memegang peranan krusial bagi perekonomian Kesultanan Ternate:

Mereka bertindak sebagai perantara dagang rempah-rempah (terutama cengkih dan pala) antara pihak kesultanan dengan jaringan pedagang internasional di pelabuhan. Karena kontribusi ekonomi dan loyalitas mereka yang tinggi terhadap syariat Islam kesultanan, Sultan memberikan hak istimewa kepada komunitas peranakan ini untuk mendirikan rumah ibadah mandiri, yang memicu berdirinya Sigi Cim (Masjid Cina) di dekat area pemukiman mereka.

Jejak Sejarah Dunia di Santiong Santiong tidak hanya penting bagi sejarah lokal, tetapi juga bagi sains dunia. Pada pertengahan abad ke-19 (sekitar tahun 1858), naturalis terkenal asal Inggris, Alfred Russel Wallace, menyewa sebuah rumah milik salah satu bangsawan Ternate yang berlokasi di Kelurahan Santiong.

Dari rumah di Santiong inilah Wallace mengirimkan surat ilmiah legendarisnya kepada Charles Darwin mengenai teori evolusi melalui seleksi alam. Melalui riwayat wilayah Santiong, kita bisa melihat bahwa Ternate zaman dulu adalah kota kosmopolitan islami yang sangat harmonis, di mana etnis peranakan Tionghoa Muslim dapat hidup, berdagang, dan beribadah dengan damai di bawah naungan adat kesultanan.

← Kembali ke Beranda
© 2026 Dinas Kebudayaan Kota Ternate