Titik Awal Abad ke-13: Masa Persatuan Momole
Pada tahun 1257 (Abad ke-13), empat pemimpin wilayah di Ternate yang disebut Momole sepakat untuk bersatu membentuk Kerajaan Gapi (cikal bakal Kesultanan Ternate) demi menghadapi ancaman luar. Ketika Baab Mashur Malamo diangkat menjadi Kolano (Raja) pertama, tradisi berpakaian para bangsawan mulai diatur untuk menunjukkan identitas kepemimpinan dan kedaulatan.
Saat itu, penutup kepala pria awalnya hanyalah selembar kain sisa potongan (tuala) yang diikatkan secara bersahaja. Seiring waktu berjalan, para tetua adat di lingkungan kedaton (istana) mulai menyusun aturan melipat kain tersebut agar tampak lebih terstruktur, rapi, dan mencerminkan status sosial pemakainya. Sesuai arti harfiahnya, Tuala Lipa berarti "sepenggal kain yang dilipat"
Evolusi ke Estetika Militer dan Simbol Prajurit
Masih bersumber dari tradisi lisan kesultanan, model lipatan tertentu pada Tuala Lipa dirancang untuk keperluan fungsional prajurit kerajaan. Terdapat jenis Tuala Lipa Kuraci (berwarna kuning khas) yang sejak ratusan tahun lalu resmi menjadi identitas keprajuritan Kesultanan Ternate. Ikat kepala ini dibuat sedemikian rupa agar tidak mudah lepas saat para prajurit melakukan gerakan lincah atau berperang, seperti yang bisa kita lihat dalam gerakan dinamis Tari Soya-Soya.
Kain Batik (Simbol Fleksibilitas, Identitas Lokal, dan Harian
Tuala Lipa bermotif batik biasanya menggunakan kain khas Maluku Utara, seperti Batik Tubo yang bermotif cengkeh, pala, atau geografis laut Ternate. Lipatan pada Tuala Lipa dirancang secara khusus hingga menyerupai bentuk huruf hijaiyah (seperti Alif, Kha, Mim, Dal) yang melambangkan jembatan antara nilai-nilai budaya luhur dengan ajaran agama.
Kini, warisan abad ke-13 ini telah resmi ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Nasional demi menjaga nilai historisnya agar tidak punah ditelan zaman.