Fere Kie diperkirakan sudah ada sejak awal pembentukan komunitas adat di kaki Gunung Gamalama pada abad ke-13
(sekitar tahun 1257 M), dan semakin diperkuat secara spiritual setelah masuknya Islam ke Ternate pada abad ke-15. Kisah yang benar mengenai Fere Kie bukanlah sekadar pendakian biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan ikhtiar ekologis untuk menjaga keselamatan negeri.
Berikut adalah kisah sejarah, asal-usul, dan latar belakang waktu yang benar mengenai ritual Fere Kie:
Kisah yang Benar tentang Fere Kie Secara historis, masyarakat adat Ternate memandang Gunung Gamalama bukan sekadar gundukan tanah, melainkan pusat kekuatan spiritual yang bertuah, keramat, dan hidup. Kisah Fere Kie berakar dari kepercayaan bahwa gunung api aktif ini senantega merespons perilaku manusia di bawahnya.
Ikhtiar Penolak Bala: Ketika Gunung Gamalama menunjukkan gejala akan meletus atau mengeluarkan tanda-tanda alam yang mengkhawatirkan
Sultan Ternate bersama perangkat adat akan menggelar Fere Kie (mendaki gunung) dan pasangan ritualnya, Kololi Kie (mengelilingi gunung). Ritual ini dipercaya mampu menenangkan Gamalama. Salah satu kisah nyata yang tercatat dalam etnografi modern terjadi pada tahun 1980. Saat itu, Gamalama bergejolak hebat. Sultan Ternate saat itu, Sultan Mudaffar Sjah, langsung pulang dari Jakarta menuju Ternate untuk memimpin ritual Fere Kie dan Kololi Kie. Sesaat setelah ritual selesai dipanjatkan, aktivitas vulkanik Gamalama berangsur-angsur menjadi tenang kembali.
Akulturasi Budaya dan Spiritual: Sebelum Islam masuk, ritual ini murni ditujukan untuk memberi penghormatan kepada kekuatan alam (bumi)
Namun, setelah kedatangan ulama besar seperti Syaikh Jafar Noh dan diterimanya Islam sebagai agama resmi kesultanan, esensi Fere Kie mengalami akulturasi.Puncak Gamalama disimbolisasikan oleh para tetua adat menyerupai tempat-tempat prosesi ibadah haji di Mekah. Doa-doa yang dipanjatkan di puncak diubah menjadi zikir, selawat, dan doa keselamatan kepada Allah SWT (Jou Maduhutu) agar kota dijauhkan dari marabahaya.
Ziarah Makam Keramat: Di puncak Gamalama terdapat beberapa pemakaman gaib/keramat (Jere) yang diyakini sebagai tempat peristirahatan para leluhur dan wali. Kisah Fere Kie yang benar wajib melibatkan prosesi ziarah di Jere ini sebagai bentuk penghormatan generasi sekarang kepada para perintis peradaban Ternate terdahulu.
Tahun 1257 M (Awal Mula Tradisi Adat): Tradisi menghormati Gunung Gamalama sudah lahir sejak berdirinya Kerajaan Ternate pada tahun 1257 M oleh Baab Mansur Malamo. Pada masa pra-Islam ini, masyarakat awal (Komunitas Tobona) sudah melakukan pendakian ritual untuk meminta keselamatan kepada penguasa alam.
Abad ke-15 hingga ke-16 (Era Islamisasi): Struktur doa Fere Kie yang kita kenal hari ini (menggunakan syariat Islam dan ziarah Jere) mulai baku pada masa ini, terutama setelah Ternate resmi menjadi Kesultanan Islam di bawah Sultan Marhum dan Sultan Zainal Abidin.
Tahun 2002 (Era Revitalisasi Modern): Sempat meredup dan terhenti pasca-tahun 1950 karena situasi politik nasional, ritual Fere Kie dan perayaan adat istana lainnya dihidupkan kembali secara besar-besaran oleh Sultan Mudaffar Sjah pada tahun 2002 melalui wadah Festival Legu Gam. Sejak saat itu, Fere Kie rutin digelar setiap tahun sebagai agenda budaya resmi.
Menurut penuturan lisan warga lokal dan pihak Kesultanan Ternate, jere-jere di puncak Gamalama muncul secara gaib dan tiba-tiba tanpa pernah digali atau dibangun oleh manusia.
Berdasarkan cerita turun-temurun, batu nisan purba ini awalnya berwarna putih bersih sebelum akhirnya berubah menghitam seiring berjalannya waktu. Karena sifat kemunculannya yang misterius, tidak ada nama yang tertulis pada nisan-nisan tersebut.
Imam Besar Kesultanan Ternate menyebutkan bahwa jere-jere kuno ini berkaitan dengan para penyebar Islam awal yang diyakini berasal dari Irak (pengaruh mazhab Syiah abad silam) sebelum Islam berkembang luas di nusantara.
Raja dan Imam Besar: Tempat bersemayamnya roh leluhur, raja-raja kuno, serta imam besar dari struktur adat Kesultanan Ternate.