Gam (Pulau/Negeri) Ternate pada rentang tahun 1883 hingga 1889 ditandai oleh menguatnya cengkeraman politik kolonial Belanda, kehidupan harian masyarakat yang terdokumentasi dalam karya seni Eropa, serta fluktuasi ekonomi perdagangan rempah. Periode spesifik ini sangat terkenal dalam catatan sejarah kolonial karena lanskap dan denyut kehidupan sosial Ternate diabadikan dengan sangat indah oleh seniman sekaligus militer Belanda, Josias Cornelis Rappard, antara tahun 1883–1889.
Lanskap Gam Ternate dalam Lukisan Rappard (1883–1889)
Aktivitas Perairan: Lautan Ternate mulai dipadati oleh perpaduan teknologi, mulai dari perahu tradisional nelayan lokal (kora-kora) hingga kapal uap (steamboat) milik pemerintah Hindia Belanda maupun pedagang asing.
Kehidupan Permukiman: Rumah-rumah penduduk beratapkan rumbia dan bambu berjajar di sepanjang pesisir pantai, kontras dengan bangunan benteng batu pertahanan dan kantor Residen Belanda yang berdiri kokoh.
Gunung Gamalama: Dalam lukisan era ini, Gunung Gamalama digambarkan terus mengeluarkan asap putih tipis ke langit, menjadi latar belakang megah yang selalu mengawasi kehidupan sehari-hari warga pulau.
Tekanan Politik Kolonial Terhadap Kesultanan
Pada periode 1883–1889, kebebasan politik Kesultanan Ternate makin dipersempit oleh pemerintah Hindia Belanda melalui sistem Karesidenan Ternate. Pada awal tahun 1883, administrasi pemerintahan kolonial dipimpin oleh Residen Belanda ke-23 di Ternate, yaitu D.F. van Braam Morris. surat-surat resmi (Brieven) bertahun 1888–1889 dari Residen Belanda yang mendikte urusan internal sultan dan pemungutan pajak daerah. Penguasa lokal tidak lagi memiliki kontrol mutlak atas perdagangan cengkih seperti abad-abad sebelumnya.
Kehidupan Sosial dan Birokrasi di Akhir Abad ke-19
Pencatatan Keuangan: Berdasarkan catatan vendukantoor (kantor lelang) kolonial tahun 1889, Ternate mengalami pergeseran ekonomi di mana banyak pedagang lokal terjerat utang akibat monopoli harga rempah oleh maskapai Belanda. Keberagaman Komunitas: Struktur masyarakat tradisional Ternate yang terdiri dari klan-klan lokal mulai berdampingan erat dengan komunitas luar. Pemerintah Belanda mulai meresmikan pengangkatan jabatan "Kapita" atau kepala komunitas imigran, seperti pembentukan perwakilan untuk komunitas Arab dan Tionghoa guna mempermudah penarikan pajak dan pengaturan wilayah pasar di Ternate.
Kisah tahun 1883–1889 memperlihatkan Gam Ternate yang tenang di permukaan—sebagaimana tergambar di lukisan-lukisan indah Rappard-namun menyimpan tekanan politik yang besar di dalam istananya.