Srikaya merupakan salah satu makanan adat yang menjadi simbol.
Bentuk yang berlapis-lapis diibaratkan sebagai isi otak manusia. Dalam falsafah masyarakat Ternate, Srikaya mengajarkan tentang jaga rasa, jaga hati. Melalui simbol ini, Srikaya mengingatkan kita akan pentingnya kesadaran diri, menjaga kekayaan batin, dan menjunjung tinggi kemuliaan akhlak serta kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
jaga rasa, jaga hati = ini nilai luhur orang Ternate. Artinya: selalu menjaga perasaan orang, menjaga sikap, dan menjaga hati biar tetap bersih.Jadi Srikaya bukan cuma makanan, tapi juga pengingat budaya fala rasa orang Ternate.
Tamelo Bahasa yang sudah lama tidak di dengar lagi yaitu bubur kacang ijo
Gule-gule dapat diartikan sebagai simbol dari Jiwa yang tenteram, ridha, dan mendekat kepada Tuhan, yang terdiri dari nafsu, akal, dan ruh. Gule-gule mengajak kita untuk memahami dan mengendalikan nafsu, sehingga dapat mencapai keseimbangan dan kebahagiaan.
Makna simbolis dari bubur kacang hijau atau gule-gule melambangkan syawat atau nafsu dan kekuatan yang ada pada diri manusia dengan demikian maka disi dapat di jelaskan pengertian secara umum elemen jiwa atau unsur dan mengajak diri pada berbagai amalan baik dan buruk.
Nasi Jaha (Pal-Pal)
pal-pal berwarna putih melambangkan sifat kesucian dan keiklasan hati seorang suami dan bentuk memanjang sebagai symbol jambatan penghubung dalam menjalin rumah tangga, bahwa makna simbol dari pal-pal yang terdiri sepuluh ruas atau potong yang disusun tersebut adalah sepuluh rusa tulang besar pada diri manusia.
yakni tulang pungung atau obo toma dudu, dua ruas tulang kaki atau obo toma hohu tulang paha tulang tangan obo toma giha tulang legan obo toma kefe dan tolang belakang sehinga hitungan pal-pal dalam satu paket yg terdapat sepuluh potong sebagai simbol tulang besar yang terdapat dalam diri manusia dan juga makna bubula atau pembagian seorang baba(ayah).
Nasi kuning (Dada Kukusan)
Makna dada kukusang atau nasi kuning sebagai sifat kematangan bagi seorang istri dalam suatu kehidupan berumahtangga dimana dalam mengurus rumahtangga sangistrilah yang lebih berkuasa dengan tugas pokok yg berat dan berfariasi
mulai dari menggadung melahirkan menyusui membina anak untuk pembentukan etika moral mengurus kebutuhan rumahtangga mengatur pengeluaran keuangan memenuhi kebutuhan suami dan kebutuhan anak dan sekaligus representasi kejayaan ketatanegaraan Kesultanan Ternate.
Boboto
Boboto merupakan salah satu menu yang ada dalam makan adat tersebut dan di sajikan berbentuk persegi dan di bungkus dengan daun pisang,Boboto juga mengandung makna bahwa dalam diri manusia terdapat sebuah fungsi alat sangat menentukan suatu kehidupan manusia yaitu jantung, organ ini memiliki peran dalam.
memompa darah keseluruh tubuh dan membuat seluruh system dan organ di dalam tubuh tetap berfungsi dengan baik, sehinga budaya masyarakat ternate menjadikan simbol yang penuh makna diri manusia itu sendiri.
Fofoki (Terong)
Fofoki (terong) dalam tradisi Ngogu Adat (makanan adat) Kesultanan Ternate adalah simbol fisik dan spiritual dari sosok laki-laki atau suami (una). Kehadirannya di atas meja ritual Makan Saro merupakan pesan visual yang menggambarkan sifat, tanggung jawab, dan kedudukan seorang pria dalam tatanan adat dan rumah tangga.
Representasi Empat Nafsu Manusia Variasi Empat Bumbu: Fofoki disajikan dalam empat macam variasi warna saus (kuning, merah, putih, dan hitam). Deskripsi ini merujuk pada empat elemen alam (tanah, air, api, angin) dan empat jenis nafsu manusia. Hidangan ini menjadi pengingat sakral bagi seorang laki-laki agar mampu mengendalikan seluruh nafsunya menggunakan akal pikiran dan akhlak yang mulia.
Nyao (ikan)
Dalam tradisi Ngogu Adat (makanan adat) ritual Makan Saro Kesultanan Ternate, nyao (ikan) adalah simbol fisik, sifat alami, dan spiritual dari sosok perempuan atau istri (mina/foheka). Kehadirannya dipasangkan secara presisi dengan fofoki (terong) untuk menggambarkan peran penting perempuan dalam rumah tangga.
Sifat Alami Air: Ikan berasal dari laut atau air. Dalam filosofi budaya Ternate, air melambangkan keluwesan, kesejukan, kesuburan, dan sumber kehidupan. Seorang perempuan (mina) diharapkan membawa kedamaian, mampu meredam amarah suami dengan kesejukan tutur katanya, serta menjadi rahim penurun keturunan yang baik.